Tak Puas, Tim Ahok Cecar Irena Handono Hingga ke Teman Biarawati


Irene Handono (berhijab), salah satu saksi pelapor Ahok, usai memberikan kesaksian di hadapan majelis hakim di Gedung Kementan, Pasar Minggu, Selasa (10/1/2017).

Tim pengacara Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tak puas hanya menyecar saksi pelapor Ahok, Irena Handono di persidangan. Mereka juga mengklaim telah menginvestigasi latar belakang Irena.

Tim penasihat hukum terdakwa kasus dugaaan penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Edi Danggur mengaku telah melakukan investigasi latar belakang para saksi pelapor dalam sidang kelima kasus dugaan penodaan agama yang menjerat kliennya. Salah satunya adalah saksi pelapor Irena Handono.

“Contoh Irena. Kami dapat dari berita acara pemeriksaan (BAP) dari Irena, langsung kami search cerita di internet tentang dia. Tapi ya tidak bisa dipercaya begitu saja. Jadinya, di-compare dengan bukti lain, kami ke Bandung, kan dia terangin kuliah di situ,” kata Edi di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat,  Kamis (12/1).

Tim penasihat hukum Ahok pun melakukan investigasi untuk mencari kebenaran dengan mencari salah satu biarawati, tempat Irena bersekolah seperti di dalam BAP.  “Kami cari biarawati, ada dua biarawati. Hasil investigasi kami, hal 1 BAP pendidikan terakhir dia D3, hal 2 lulusan Institusi Filsafat Teologi Bandung. Dari dosen sana bilang Institut Filsafat Teologi Bandung tidak ada. Kampus itu sejak beberapa tahun lalu dihapus dan menyatu dengan Unpar, ” jelas Edi.

Kedua, sambung Edi, Irena menuliskan lulusan Diploma 3 pada 1975, sementara di Indonesia D3 baru dibuat pada 1980. “Saya dapat dari dosen di sana hanya ada BA tiga tahun dan Dra untuk wanita,” ucapnya.

Tim investigasi juga mengunjungi salah satu teman biarawati Irena yang menyebut tidak mungkin ia mendapatkan gelar D3. Pasalnya, Irena hanya menjalani masa perkuliahan sekitar lima sampai enam bulan.


“Sekolah itu khusus untuk calon pastor, imam, biarawati. Ia dikeluarkan tidak berhak sekolah lagi di situ (karena tidak lolos tes kesehatan). Tetapi di sidang ketika kami tanyakan tentang masuk sekolah itu pada 1974 dia bilang tiidak, dia bilang 1972. Lagi-lagi berbohong, padahal kami dapat bukti dari dua suster, dia bilang senior Irena yang masuk 1973 kan tidak mungkin lebih lama,” kata Edi.

Edi melanjutkan ceritanya, lantaran tidak diterima dan dikeluarkan akhirnya Irena melanjutkan kuliah di Universitas Atmajaya Jakarta. Namun, lagi-lagi tidak selesai, Irena memilih untuk menikah dengan kakak kelasnya.

Nah, pas ditanya di BAP, apakah pernah menikah dia bilang ya menikah dengan Muhammad Mansyur Amin meninggal 2010 lalu tanpa anak. Dia tidak menceritakan kenyataan yang sebenarnya. Padahal, dari keterangan suster, Dia sudah men‎ikah dengan kakak kelasnya Maxi, jelas ini dia membohongi tidak mengungkapkan diri secara benar dan jujur,” tegas Edi.

(rol)

(Visited 23 times, 1 visits today)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *