Ini Kebijakan Pendidikan Paling Kontroversi Tahun 2016


Menteri-Pendidikan-dan-Kebudayaan-Mendikbud-Muhadjir-EffendyBelum lama setelah dilantik menggantikan Anies Baswedan pada 27 Juli 2016 lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud Muhadjir Effendy langsung menjadi pembicaraan di lini massa, terutama media mainstream.

Meskipun baru wacana, namun rencana kebijakan Mendikbud Muhadjir tentang penerapan sistem Full Day School (FDC) menuai banyak kontroversi.

“Saya baru lontarkan ide saja, bagaimana bila siswa pulangnya jam 5 sore agar dia bisa mendapatkan pendidikan karakter lewat kegiatan-kegiatan yang menyenangkan sesuai program nawacita,” kata Menteri Muhadjir dalam konpres di Jakarta, Selasa (9/8).

Muhadjir kaget, reaksi masyarakat begitu besar, sehingga timbul penolakan. Padahal belum tentu ide itu dilaksanakan.

“Saya lempar ke masyarakat untuk melihat reaksi publik. Eh, ternyata saya dibully habis-habisan, tapi tidak apa-apalah,” ujarnya sambil tersenyum.

Kebijakan yang sejatinya sudah dijalankan di lembaga pendidikan seperti pondok pesantren tersebut dianggap tidak cocok untuk diterapkan.

Tak pelak, kritik pun datang dari berbagai kalangan, politisi, aktivis pendidikan hingga para kepala daerah.

Dari segala kontroversi yang muncul, setidaknya ada 10 fakta yang membuat gagasan ini menarik perhatian banyak pihak. Seperti halnya kebijakan pada umumnya, ada sisi baik dan kurang baiknya. Inilah yang banyak menjadi sororta.

Dari penelusuran Pojoksatu, ada sedikitnya 10 anggapan, baik pro maupun kontra soal penerapak kebijakan Full Day School. Berikut ulasannya:

1. Akan semakin membuat orang tua lepas tanggungjawab

Selama ini, urusan keberhasilan siswa di sekolah selalu diserahkan kepada guru. Padahal, orang tua mempunyai peran besar untuk kesuksesan anaknya. Dengan progran full day school, dimana murid akan menghabiskan waktu lebih banyak di sekolah, akan semakin membuat orang tua abai atas tugas dan tanggungjawabnya.

2. Full day school Murid dikhawatirkan mengalami stres

Rentang waktu yang panjang berada di sekolah dalam program full day school dihkawatirkan akan membuat para murid SD dan SMP yang menjadi sasaran program ini menjadi jenuh baghkan stres.

3. Penerapannya tidak bisa berlaku sama rata

Mengingat kondisi sosial anatar masyarakat di perkotaan dan pedesaan sangat berbeda, maka program full day school tidak bisa diterapkan di semua daerah. Mungkin kalau di kota, program ini bisa berjalan. Namun kalau di desa, para orang tua tidak banyak bekerja di luar rumah selama seperti kerja kantoran di kota.

4. Murid kemungkinan besar kekurangan waktu bersama orangtua

Karena terlalu lama di sekolah, selama hampir 8 jam, dikhawatirkan akan mengurangi waktu para murid dengan orangtuanya. Mereka akan lebih banyak berinteraksi dengan orang lain di sekolah.


5. Belum semua sekolah punya fasilitas memadai

Tujuan program full day school adalah supaya anak-anak selalu terawasi selama tidak berada di dekat orangtuanya. Makanya mereka diharuskan berada di sekolah selama orang tuanya berada di kantor.

Namun, kondisi ini tidak akan berjalan mulus, kalau sekolah tidak mempunyai sarana yang cukup, untuk membuat siswa betah di sekolah. Setidaknya dibutuhkan anggaran untuk memenuhi kebutuhan para murid selama berada di sekolah setelah waktu belajar. Fasilitas bermain atau berlatih untuk kegiatan tertentu, perlu diadakan.

6. Full day school sangat membentu orangtua

Keuntungan program ini adalah supaya orang tua tidak perlu khawatir dengan anaknya selama mereka bekerja di kantor, sebab anaknya berada dalam pengawsan sekolah. Di sisi lain, mereka tidak akan terganggu dengan antar jemput anak selama jam kator.

7. Waktu setelah jam belajar bisa digunakan untuk kegiatan positif

Selama berada di sekolah setelah jam belajar, para murid akan diberi kegiatan ekstra kurukuler, seperti mengaji, olah raga kegemaran dan memberi penanaman nilai-nilai kearifan lokal, mencintai sastra dan budaya.

8. Para murid akan punya banyak waktu dengan orang tua saat libur

Kebijakan full day school ini akan membuat waktu waktu sekolah dikurangi, Para murid akan mendapat waktu libus selama dua hari, yakni Sabtu dan Minggu. Dengan begitu, mereka akan mempunyai banyak waktu dengn orang tua selama masa liburan.

9. Akan menghindari kemacetan di kota-kota

Salah satu jam macet di kota-kota besar seperti Jakarta adalah waktu menjemput dan mengantar anak sekolah. Jika program full day school diterapkan, setidaknya waktu jemput murid pada siang hari akan ditiadakan. Itu artinya, di siang hari, mulai dari pukul 11 hingga 14 tidak akan terjadi macet karena pulangnya anak sekolah.

10. Program ini bisa berjalan, karena sudah dipraktekkan sebelummya

Sebenarnya, Mendikbud Muhadjir Effendi terinspirasi dengan pemberlakuan sistem ful day school dari sekolah-sekolah swasta yang ada di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Makanya program ini diyakini bisa berjalan.

Hanya saja, seperti yang disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, perlu ada kajian konprehensih sebelum kebijakan itu diterapkan di sekolah-sekolah negeri. Selain itu, juga perlu dilakukan proyek percontohan yang akan dievaluasi dampak baik buruknya.

Nah, hingga saat ini, program ini masih belum jalan. Kemendikbud berencana akan mengujicobakanya untuk beberapa sekolah yang masuk dalam pilot project 2017 mendatang.[ps]

(Visited 54 times, 1 visits today)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *