Digilas Angkutan Online, Pengemudi ‘Becak Mesin’ Menjerit: “Cari Rp 30 Ribu aja susah!”


Kehadiran angkutan online meggerus keberadaan angkutan masal konvensional pada beberapa daerah di Indonesia. Termasuk dengan angkutan yang ada di Medan.

Puluhan penarik becak mesin (bermotor) kota Medan, Solidaritas Angkutan dan Transportasi Umum (Satu) menggelar aksi dan mendesak walikota agar menutup operasional angkutan online, Kamis (16/2/2017) sore.

Kepada wartawan, Johan Merdeka selaku Koordinator Umum ‘Satu’ mengaku aksi yang digelar ini merupakan aksi protes akibat efek sulitnya persaingan angkutan konvensional dengan angkutan berbasis online tersebut.


“Dengan adanya angkutan berbasis online seperti Go Jek, Grab, Kocar, Uber dan lainnya membuat pendapatan para penarik becak konvensional menjadi sangat menurun drastis hingga 30%. Biasanya para abang becak ini memiliki pendapatan Rp 100 hingga Rp 200 ribu perhari. Sehingga, saat ini mendapatkan Rp 30 sampai Rp 50 ribu aja pun sulit,” jelas Johan kepada wartawan.

Menyikapi hal tersebut, sambungnya, seluruh penarik becak konvensional yang ada di kota Medan dan daerah bersepakat untuk membuat aksi unjuk rasa besar-besaran pada tanggal 21 Februari 2017 ini, terkait angkutan berbasis online yang telah membuat penurunan pendapatan para abang becak, supir angkot dan supir taxi yang ada di kota Medan.

“Kami kecewa terhadap pemerintah Kota Medan yang saat ini terkesan menarik ulur keberadaan angkutan dan transportasi berbasis online ini. Padahal bulan November 2015 lalu, Kementrian Perhubungan telah mengeluarkan surat larangan terkait keberadaan Angkutan berbasis online tersebut. Beberapa kota besar lainnya seperti Solo, Bandung dan Bali, Walikotanya berani menolak keberadaan angkutan berbasis online ini. Kami berharap, bapak Walikota Medan mempertimbangkan hal ini ke depannya,” pungkasnya. (mol)

(Visited 20 times, 1 visits today)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *